Untuk Tom: Imanuel – Allah menyertai kita, teks homili Bernhard Kieser SJ, pada misa Requiem Rm Tom Jacobs 6 April 2008, di Gereja Kotabaru, Yogyakarta.

Untuk Tom: Imanuel – Allah menyertai kita.
April 2008, di Gereja Kotabaru, Yogyakarta

Kita berdoa mengenang Pater Thomas Jacobus Maria Jacobs, Romo Tom. Sinyo berumur 21 tahun missionaris dari Belanda, tahun 1949 di Giri Sonta. Alumnus Pontificio Istituto Biblico dan doctor teologi dari Pontificia Universitas Gregoriana, Roma, Tahun 1966. Professor – akhirnya, setelah mengajar empatpuluh tahun dan publikasi 70 buku – pada fakultas teologi universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, tahun 2002. Mulai 1996, penghuni pastoran Kotabaru – imam, sahabat umat. Sejak Januari 2008 pasien di Rumah Sakit Bethesda. Pada tanggal 5 April, sore jam 7, pindah, dipanggil Tuhan.

Di saat anda berkumpul untuk menghantar kolega atau guru Anda, pembimbing, imam, sahabat Anda, orang tidak dapat membentangkan riwayat Romo Tom bagi umat katolik dari Padang sampai Atambua dan lebih ke timur lagi. Setiap orang dari Anda akan menyimpan kenangannya tersendiri.

Sementara kita berkumpul untuk berdoa di hadapan majestas divina, Allah yang Mahabesar, tidak pada tempatnya pula kita menguraikan karya seseorang, betapapun besar jasa Tom Jacobs dalam gereja kita.
Yang dapat kita buat, dengan hormat dan sungkem pada Tom dan dengan rendah hati dan penuh syukur pada Allah: kita – masing-masing dari antara kita – mengenangkan, bagaimana kita boleh menempuh jalan bersama Tom – dan kita akan menemukan Allah berjalan beserta kita, Imanuel.

Umapamanya: Tahun 1966, setelah menyelesaikan studi di Roma, Tom Jacobs mulai mengajar teologi untuk frater-frater Serikat Yesus dan para calon imam dan Seminari Tinggi Santo Paulus. Dari Roma, Tom membawa tulisan doktor: kruis en verrijzenis – artinya salib dan kebangkitan Kristus – dan sampai khotbahnya terakhir di gereja Kotabaru bulan Desember, itulah yang ia wartakan, tidak ada yang lain.

Dari Roma, tahun 66 itu, Tom membawa pula hasil Konsili Vatikan II, yang selama tiga tahun di Roma ia ikuti dari dekat. Di kuliah-kuliah teologi, ia mengkomentari Gaudium et spes dan dokumen-dokumen Konsili yang lain; maksudnya, supaya dari peristiwa di Roma menular dinamika gereja; katanya: „Hanya kalau gereja hidup dan bekerja sebagai lembaga manusia (jadi, sesuai dengan hukum dan tuntutan sosial dan kebudayaan segala lembaga manusia lainnya), maka kumpulan manusia itu sungguh dapat hidup sebagai umat Allah. … Dan karena imannya, gereja yang tampak sebagai lembaga sosial seperti yang lain, adalah benar-benar umat Allah, dalam arti ilahi yang sesungguhnya.“

Bahwa kami, mahasiswa teologi, belum tentu ketularan dinamika baru, merupakan kisah lain. Setiap masa ujian adalah masa gawat, bukan hanya untuk mahasiswa, melainkan untuk Tom juga – sampai menjadi kebiasaan, bahwa Tom terpaksa mengadakan ujian berbaring di rumah sakit. Dengan kata-katanya yang tajam dan kritis, Tom berhasil membangkitkan dalam hati saudara-saudara saya yang Jawa hasrat revolusioner untuk meng-indonesia-kan hidup di Kolese di belakang gereja ini.
Gawatlah dinamika gereja dari Konsili itu – namun di tengah-tengah perombakan, Tom membuka mata untuk mengenal daya dalam iman umat setempat. Dan setelah sekian tahun kita paham: Allah menyertai umatNya, di manapun mereka berjerih-payah-beriman; bukan sekedar dalam keberanian para misionaris, entah dari Belanda, dari Jerman atau dari Roma. Gereja dari Roma menjadi gereja sedunia; dan di Indonesia, Tom Jacobs adalah saksinya. Wajah gereja di Indonesia pun berubah.

Empatpuluh tahun yang lalu, ditahbiskan imam, saya merayakan misa pertama dan Tom Jacobs menjadi presbiter assitens, yaitu imam berpengalaman yang berdiri di samping imam baru, membisiki kalau yang baru tidak tahu lagi bagaimana terus dan mengoreksi, kalau salah. Nasehat Tom: buatlah misa-pertama-mu se-sederhana mungkin; namun saya nekad, membuatnya meriah, antara lain dengan menyanyikan kata-kata konsekrasi. Akibatnya: aku macet di tengah kalimat yang paling saya agungkan dan Tom terpaksa meneruskan dan melengkapinya.

Sejak itu, bersama dengan Tom, juga tidak jarang dalam debat dengan dia, kami belajar untuk menyanyikan lagu iman kita dengan tulus. Di fakultas teologi Tom dengan saksama mengajarkan iman dalam tradisi katolik; namun ia menantang dan menuntut mahasiswa dan rekan dosen untuk berkisah iman mengenai apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebab kata Tom:

„Keterbukaan total manusia dalam hati dan budi, dalam pengharapan dan pemahaman, terarah kepada pemenuhan oleh Allah. Dan karena perjumpaan dengan Allah dalam dunia ini tidak dapat mengatasi keterbatasan kemampuan manusia, maka keterbukaan itu terarah pada masa depan Allah. … Dalam misteri perjumpaan itu, terlaksana Kerajaan Allah.“ Yang terjadi dari hati ke hati, menyelamatkan dunia.

Sejak di zaman Romo van Heusden dan Romo Widyana pastor Kotabaru, Tom Jacobs berkhotbah di gereja ini, menarik umat karena menyentuh hati mereka. Terbahak-bahak mereka ketawa karena leluconnya dan menyebut Tom Joni Gudel di mimbar; lain orang merasa dibingungkan dan mengharapan lebih banyak tertib gerejani. Tom tidak menolak kritik dan tidak mengesampingkan mereka yang mengritik dia; dan mereka pun tidak meninggalkan dia. Konflik membuat Tom ikut menderita – tetapi tidak pernah dibatalkan perjumpaan.

Untuk apa lagi gunanya gedung gereja yang terpelihara-rapih ini? Di sini orang dapat berjumpa; berjumpa dengan Allah, karena Dia terlebih dahulu melawat kita. Semua orang, tak seorang pun dari gereja dan agama manapun terhalang-halangi. Mulai dari anak-anak PIA yang setiap minggu ke-empat merayakan ekaristi dengan Romo Tom – embah Tom.

Perayaan ekaristi Kotabaru, katanya, menggerogoti makna ibadah umat katolik – Romo Tom pun sering ikut dikritik. Di mimbar teologi tentang ekaristi, Tom mengantar mahasiswanya pada warisan Yesus dalam perjamuan malam sebelum menderita ‘Inilah tubuhKu, inilah piala perjanjian dalam darahKu’, dan mengajak mereka untuk mendengarkan kata-kata itu dalam bahasa jawa mereka: Iki saliraku! Iki awakku – inilah aku untuk kamu. Setiap kali, kita maju beribadat – dan betapa sering anda telah ikut perayaan ekaristi yang dipimpin Romo Tom – Kristus menyongsong kita. Inilah aku untuk kamu – sampai kita dapat menyambut Dia – Allah yang menyertai kita.

Seperti semua yesuit muda, Tom pula diajari oleh Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohani, untuk bertanya kepada Yesus: bagaimana Engkau yang adalah Pencipta sendiri, telah sampai berkenan menjadi manusia? Kami belajar untuk makin mengenal kerahiman ilahi sambil bertanya: Bagaimana dari hidup abadi Engkau sampai ke kematian di waktu kami, bahkan wafat secara demikian untuk dosa-dosaku? Bertemu dengan Yesus, iman ingin memandang kemuliaan Allah yang bersemunyi dalam jerih-payah-penderitaan, sampai di makam sepi; dam iman yang sama memohonkan rahmat suka cita karena Kristus Tuhan mulia dan gembira.

Kini, setelah Tom meninggal, saya masih punya dua tugas yang ia berikan kepadaku. Kepada dokter yang satu yang merawat dia, harus kusampaikan sebuah buku mazmur istimewa – dan moga-moga dokter tahu apa maknanya. Untuk dokter yang lain saya harus mencari suatu buku lukisan-lukisan wajah Yesus. Hanya wajah, pesan Tom. Bukunya belum saya temukan. Namun perkara buku wajah Yesus itu saya teringat kuliah pertama yang kuikuti pada Tom, di ruang Fakultas Kateketik, tidak jauh dari sini. Tema kuliah satu semester: Siapa Yesus Kristus menurut Perjanjian Baru. Kuliahnya mengesan; lebih mengesan lagi ujian tertulis. Sebanyak enampuluh pertanyaan, hendaknya dijawab dalam enampuluh menit.

Waktu kemarin sehari kami menemani Tom di rumah sakit; hanya kadang-kadang dia masih dapat memberi reaksi; terpaksa ia melepaskan segala proyek dan segala ilmu; betapapun penuh perhatian-kasih para perawat dan tekun-setia dokternya – mereka tidak dapat menjangkau dia lagi; kami, teman-temannya tidak lagi penting; juga kasih dan doa seperti hanya melayang-layang. Pada saat terakhir itu, tidak lagi dibutuhkan enampuluh menit untuk semua pertanyaan. Cukup sekejap mata, Tom tahu siapa Yesus Kristus, dan mengenal wajah Imanuel, Allah beserta kita. Seumur hidup Tom, ia ingin mengikuti Kristus; kini, dengan rahmat Allah, Tom boleh beserta Dia pula, seumur hidup Tuhan mulia dan gembira.
Dan kita? Selama sakit, Tom mengajak para pengunjung berdoa ‘aku percaya’, supaya imannya dikuatkan; kini, mengenang seorang Tom Jacobs yang mengajari dan membina iman, marilah kita berdoa supaya iman kita pun dikuatkan. Aku percaya akan Allah …

*) Ini adalah teks homili Bernhard Kieser SJ, pada misa Requiem Rm Tom Jacobs 6 April 2008, di Gereja Kotabaru, Yogyakarta.