Learning Curve

Tulisan digital ini m,erupakan bagian dari Buku Learning Curve yang pernah saya terbitkan sekitar tahun 80 an dan membahas tentang gejala  Learning Curve sejak dari awal diamati hingga pengalaman-pengalaman yang terjadi di berbagai Industri dan Perusahaan. Dalam pembahasan lebih banyak mengetengahkan fakta-fakta, hasil-hasil penelitian, dan pengalaman-pengalaman. Dimulai dengan topik bahasan yang mengetengahkan fakta-fakta sejarah penemuan model Learning Curve dan penelitian-penelitian lanjutan yang dilakukan pada berbagai produk, industri, dan perusahaan di berbagai negara untuk menguji keberadaan serta konsistensi teori Learning Curve.

Dari hasil berbagai penelitian yang telah dilakukan, akhirnya dijumpai berbagai model Learning Curve yang cocok diterapkan untuk kondisi tertentu, dan secara matematik, berbeda dengan model awal yang pertama kali dilaporkan oleh Wright. Mesikupun demikian, berdasarkan pengalaman, model awal tersebut diuraikan secara luas, di samping alasan lain, yaitu, sebagai model yang sederhana untuk menjelaskan baik secara grafik maupu matematik gejala Leraning Curve. Sebagai contoh pengoperasian, beberapa latihan juga dibahas.

wright_t3Learning Curve adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh T.P. Wright untuk wright_t4menandai suatu gejala yang terjadi bila orang mengerjakan pekerjaan yang sama berulang kali. Semakin banyak unit pekerjaan yang dikerjakan, semakin cepat Waktu Rata-rata per unit untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Sebenarnya, dalam kehidupan sehari-hari, gejala semacam itu seringkali kita alami. Namun demikian, secara alamiah, gejala Learning Curve tersbut mulai diamati pada tahun 1925 dan, kemudian baru dilaporkan pada tahun 1936.

Pada dasarnya, secara matematik, model Learning Curve yang dilaporkan oleh Wright adalah sebuah fungsi pangkat. Namun, ia dapat diubah ke dalam bentuk fungsi logaritmik linier. Perubahan ini akan lebih memudahkan kita di dalam menemukan parameter-paramater model dengan cara regrersi linier untuk menganalisis data empirik.

Peraga1A

Model logaritmik linier memang mungkin dioperasikan dengan menggunakan kalkulator yang memiliki fungsi logaritmik atau pangkat.namun demikian, pengoperasian tersebut sifatnya terbatas. untuk kebutuhan praktis dan menyangkut analisis yag berseri, cara pengoperasian tersebut kurang memadai. Dalam hal ini, Web Learning Curve Calculator yang disediakan oleh NASA bisa diakses melalui http://cost.jsc.nasa.gov/learn.html untuk digunakan. Model dalam format Excel yang digunakan dalam pembahasan di Blog ini dapat di download LC.xls. Model ini bukan hanya menejelaskan fenomena waktu rata-rata tetapi juga waktu total.

Peraga1B

AWAL PENELITIAN DAN PENEMUAN LEARNING CURVE

Di dalam dunia pekerjaan terdapat gejala, yaitu apabila suatu pekerjaan dapat diulang secara ajeg, maka waktu yang digunakan akan menjadi lebih pendek dibanding dengan saat pertama kali dikerjakan dan secara ajeg pula akan turun dengan tingkat tertentu sesuai dengan tingkat pengalaman, adaptasi, dan belajarnya. Gejala ini menunjukkan adanya adaptasi pekerja terhadap pekerjaan yang dihadapinya. Adaptasi terhadap pekerjaan tersebut didorong oleh keinginan setiap individu pekerja untuk melaksanakan gerakan ekonomis. Gejala tersbut dapat dijelaskan melalui “LEARNING CURVE” atau “EXPERIENCE CURVE”.

Di dalam pengoperasian pabrik, pola atau gejala belajar tersebut pertama kali diobservasi pada tahun 1925 oleh komandan Wright – Patterson Air Force Base di Ohio[1] . Dan, di dalam literatur, gejala Learning Curve pertama kali dilaporkan oleh T.P. Wright[1] dalam “Factory Affecting The Cost Of Airplanes” Journal of Aeronautical Sciences, vol. 3, no. 4, (1936), pp. 122-128.

Wright melaporkan bahwa pengalaman berperanan di dalam meningkatkan produktifitas, hal itu tercermin di dalam jam kerja langsung rata-rata untuk memproduksi kerangka pesawat (tanpa mesin) yang menurun dengan tingkat terntu bila jumlah yang diproduksi menjadi dua kali lipat. Jumlah jam kerja langsung rata-rata untuk memproduksi kerangka pesawat yang keempat adalah 80% dari yang diperlukan untuk unit yang kedua; untuk kerangka pesawat yang kedelapan hanya 80% dari unit yang keempat, dan untuk kerangka pesawat yang keseratus hanya 80% dari yang kelima puluh. Dengan demikian disimpulkan bahwa tingkat belajar dari pengalaman pada pembuatan kerangka pesawat tersebut dalah 80% pada jumlah kelipatan dua.

“Bila jumlah unit yang diproduksi adalah dua kalinya, maka jumlah jam tenaga kerja langsung untuk memproduksi, setiap satuan akan menurun pada tingkat tertentu, seperti 90%, 80%, 70% dan seterusnya”

Pada bagian aritmatik, dengan koordinat linier, hubungan antara waktu rata-rata dengan banyaknya unit yang diproduksi berupa sebuah kurva yang menurun dengan cepat dan kemudian agak landai. Pada bagian yang berskala logaritmik hubungan tersebut berupa sebuah garis lurus.

Learning Curve mulai mendapat perhatian selama Perang Dunia II ketika kontraktor-kontraktor pemerintah mencari cara untuk memperkirakan biaya dan waktu yang

dibutuhkan di dalam pembuatan kapal dan pesawat udara bagi keperluan perang. Mereka yang berperan di dalam awal perkembangan Learning Curve hingga tahun 1950-an adalah:

1. CRAWFORD adalah seorang penyumbang bahan-bahan yang perlu dicatat. Sayang sekali banyak bahan yang telah dikembangkan olehnya dalam bentuk manual-manual perusahan yang tidak tersedia lagi saat ini. Sumbangan utamanya terhadap teori Learning Curve adalah sebuah penelitian terhadap dua ratus pekerjaan di dalam proses produksi kerangka pesawat udara, di mana penelitia ini menghasilkan sebuah formulasi baru Learning Curve[2] Crawford menunjukkan bahwa hubungan antara jam kerja langsung per-unit dan jumlah unit kumulatif dapat dijelaskan oleh fungsi Y = a.xh

2. CRAWFORD dan STRAUSS[3] mengadakan suatu penelitian yang mendalam mengenai produksi keragka pesawat udara Perang Dunia II di Amerika. Learning Curve untuk 118 pesawat udara dianalisis dan rata-rata industri dihitung. Dari penelitian ini ditemukan bahwa Learning Rate rata-rata untuk seluruh model adalah 79.7%, dan kemudian disimpulkan bahwa Learning Rate 80% adalah standar untuk industri kerangka pesawat udara. Namun sayang sekali, standar tersebut dalam kenyataan sering tak memuaskan sehingga banyak penelitian mengenai Learning Curve dilakukan setelah ini. Kerugian yang dialami oleh Douglas Aircraft pada tahun 1967, di dalam memproduksi pesawat DC 9 yang menyebabkan ia merger dengan Mc Donnel adalah sebuah contoh tetang akibat penerapan asumsi standar Learning Rate tersebut[4].

3. Selama dan pada akhir Perang Dunia II, “Department of Commerce” melakukan sejumlah penelitian yang menarik tentang Learning Curve industri pembangunan kapal di Amerika. Di dalam menganalisis, datan jam kerja dikumpulkan dari berbagai model kapal yang berbeda. Dari penelitian itu disimpulkan bahwa rata-rata Learning Rate adalah 80% dengan suatu interval antara 74% dan 90%[5]

4. Di Perancis, P. Guilbert, pada tahun 1945 mempublikasikan “Le Plan de Fabrication Ae’Ronautique”, yang mana mungkin mewakili satu di antara sekian banyak penelitian mengenai Learning Curve di luar Amerika. Di dalam penelitian ini Guilbert memperkenalkan tingkat produksi sebagai variabel tambahan yang mempengaruhi biaya satuan, dan ia menyimpulkan bahwa tingkat produksi menentukan bilamana penurunan satuan biaya tenaga kerja terjadi[6]

5. MENSFORTH, seorang yang mempunyai hubungan dengan “The Ministry of Aircraft Production” di dalam Perang Dunia II, telah mengumpulkan sejumlah besar bahan-bahan pada produksi kerangka pesawat udara di Inggris. Mensforth menemukan bahwa gambaran mengenai Learning Curve di Inggris sama dengan yang terjadi di Amerika. Kecenderungan umum Learning Curve adalah pada interval 75% hingga 85%[7]

Di Swedia, LUNBERG[8] melakukan penelitian terhadap pabrik “HORNDAL IRON”. Ia memberi nama “Horndal Effect” untuk suatu gejala yang sangat mirip dengan gejala Learning Curve. Selama 15 tahun, pabrik ini tidak menambah investasi baru dalam segala macam bentuk. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak ada perubahan yang nyata dalam metoda-metoda produksinya. Selama periode tersebut produktifitas (hasil per jam kerja langsung) meningkat dengan rata-rata mendekati 2% per tahun. Karena faktor yang lain tetap maka peningkatan kinerja tersebut hanya dapat terjadi karena pengaruh belajar dari pengalaman.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa teori Learning Curve berawal dari pembuatan kerangka pesawat udara. Dan, penelitian selanjutnya, pada berbagai industri dari berbagai negara hingga tahun 50-an, menunjukkan bahwa gejala Learning Curve yang telah dilaporkan pertama kali oleh T.P. Wright tersebut terjadi pula pada mereka. Gejala Learning Curve, seperti pada awal penemuan ini, menunjukkan perilaku jam kerja langsung rata-rata untuk pekerjaan yang berulang yang semakin menurun dengan tingkat tertentu bila jumlah yang dikerjakan bertambah. Di dalam gambar, polah hubungan tersebut dijelaskan oleh Peraga 1A dan 1B, dan secara matematik gejala Learning Curve tersebut mengikuti suatu fungsi pangkat yaitu,

Y = a.x-b 2.1

*) Notasi ini sebagai pengganti notasi yang berbeda-beda yang digunakan oleh penulis-penulis yang lain

dimana,

  • Y: waktu rata-rata atau jam kerja langsung rata-rata untuk x unit pekerjaan
  • x: banyaknya unit yang dikerjakan
  • a: waktu untuk mengerjakan unit yang pertama
  • b: nilai eksponen yang berkaitan dengan Learning Rate

Fungsi pangkat 2.1 dapat pula dinyatakan delam persamaan logaritmik linier yaitu

log Y = log a – log x 2.2

Memang, penelitian-penelitian mengenai Learning Curve sampai dengan tahun 50-an terutama pada bidang industri pesawat terbang dan kapal, namun setelah periode tersebut, banyak peneliti yang memusatkan perhatiannya pada industri-industri di luar kedua bidang industri tersebut, dan hasilnya sungguh luar biasa! Gejala Learning Curve terjadi pada setiap macam organisasi usaha manusia[9]. Learning Curve adalah sebuah gejala yang universal[10]. Selagi di situ ada manusia yang terlibat dalam kegiatan, maka di situ pasti ada proses belajar betapa pun kecil kadarnya. Belajar adalah produk pengalaman. Belajar hanya dapat terjadi melalui usaha untuk menyelesaikan suatu persoalan dan oleh karena itu hanya terjadi selama kegiatan. Bagaimanapun juga, pengalaman sebelumnya adalah ‘a significant role’ yang mengubah persepsi seseorang[11]

 

PENGALAMAN DAN PENELITIAN LEARNING CURVE DALAM BERBAGAI BIDANG

Gejala Learning Curve, secara langsung, muncul karena dipengaruhi paling utama oleh perilaku manusia di dalam proses menjalankan kegiatan. Pengalaman mempunyai peranan di dalam memodifikasi persepsi mereka. Di dalam bab ini kita akan melihat bagaimana pengalaman sebelumnya mempengaruhi manusia di dalam memodifikasi persepsi.

Gejala Learning Curve pada Proses Pelatihan Tekstil

Secara umum, tujuan pelatihan adalah memberi manusia suatu ketrampilan tertentu sehingga ia akan mengerjakan pekerjaan dengan hasil kinerja lebih aik dari sebelumnya. Proses ini sangat menarik untuk diketahui, karena pengalaman pelatihan ini, kita, paling sedikit, dapat memperoleh gambaran secara nyata dan langsung mengenai bagaimana manusia memodifikasi persepsinya.

Pada tahun 1938, Blankenship & Taylor[12] melakukan penelitian terhadap pelatihan pada pabrik tekstil. Penelitian tentang pelatihan ini adalah yang pertama kali dilakukan dan digunakan oleh E.N. Corlett & V.J. Marcombe[13] untuk menunjukkan terjadinya proses modifikasi persepsi tersebut.

Dari penelitian tersebut diperoleh data mengenai tiga kelompok peserta pelatihan (trainee). Data tersebut meliput periode 50 minggu di mana perbaikan kinerja para peserta diukur pada jarak waktu yang teratur. Kegiatan yang diteliti adalah “Covering”, “Trimming”, dan “Hemming”.

Picture1Penelitian Blankenship & Taylor, 1938 pada pabrik tekstil

Apabila data tersebut kita tuangkan ke dalam diagram, maka gejala belajar dari pengalamanyang memungkinkan seseorang memperbaiki kinerjanya tampak dengan jelas di dalam proses pelatihan tersebut, seperti ditunjukan oleh peraga 3.

Diagram pada peraga 3 mungkin agak aneh sebagai suatu diagram Learning Curve, karena sumbu datar menyatakan satuan waktu (minggu) menggantikan waktu rata-rata, sehingga hasil adalah fungsi dari waktu. Hal ini tentunya berbeda dengan peraga 1 di mana diagram Learning Curve menunjukkan bahwa waktu rata-rata adalah fungsi unit yang diproduksi, semakin rendah waktu rata-ratanya.

33

32

31Learning Curve tiga kelompok pelatihan tekstil

Dengan format seperti gambar di atas, yang mana hasil adalah fungsi dari waktu, gejala peningkatan kinerja sebagai hasil dari proses pelatihan dapat dilihat dengan jelas. Pada 10 minggu pertama, terjadi peningkatan kinerja yan sangat tajam, dan hal itu terjadi pada setiap keompk baik covering, trimming maupun hemming. Setelah 10 minggu yang pertama, peningkatan kinerja lebih rendah dibanding sebelumnya. Dan, pada minggu ke-30 dan seterusnya, relatif tidak ada perbaikan kinerja lagi pada ketiga kelompok tersebut, dan bahkan pada minggu setelah ke-40, tidak ada lagi perbaikan kinerja. Kiranya gejala inilah yang umum terjadi bila seoran melaksanakan suatu kegiatan. Semakin lama seseorang mengerjakan pekerjaan yang sama, semakin ahli ia mengerjakan pekerjaan itu, dan semakin sedikit waktu yang ia butuhkan untuk mengerjakan setiap unitnya. Atau dengan kata lain, semakin sering seseorang menghadapi suatu masalah, semakin berpengalaman ia menangani masalah tersebut.

 

Gejala Kehilangan Pedoman pada Proses Belajar Mengetik

Penelitian ini didasarkan pada laopran Cochran pada bulan Januari, 1969[14] Sebuah kelas dengan 18 gadis yang belajar menetik selama periode satu tahun, dan dibagi ke dalam “autumn”, spring”, dan “summer”, memberi data yang ditabulasi pada peraga berikut,

Peraga4

Learning Curve Hasil pelatihan mengetik

Penelitian ini sangat menarik, berkaitan dengan gejala Learning Curve, karena menunjukkan bagaimana pengaruh tidak ada kegiatan selama beberapa hari berturut-turut terhadap adaptasi seseorang. Apakah tingkat kecepatan seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan berubah bila ia berhent untk sementara waktu? Hasil penelitian tersebut mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Data yang disajikan pada Peraga 4 tersebut mengukur kemampuan peserta latihan sejak dari awal belajar, sehingga data tersebut dapat memberi gambaran tetang tingkat penguasaan mengetik per menit sejak dari kemampuan paling minim atau bahkan nol sama sekali hingga sampai pada tingkat penguasaan tertentu dengan berhenti dua kali selama beberapa hari berturut-turut yaitu ketika liburan Natal dan Paskah.

Bila data pada Peraga 4 kita tuangkan ke dalam sebuah diagram, maka pada Peraga 5 pembaca dapat melihat dengan lebih jelas bagaimana pengaruh liburan tersebut pada tingkat kecepatan mengetik mereka. Pada awal pelatihan ini, ketika kata-kata yang dihasilkan adalah 11.500, tingkat hasil yang mereka capai adalah 10 menit/100 kata atau 10 kata per menit, dan ketika mencapai 20.00 kata, hasilyang mereka capai adalah 9.7 menit/100 kata atau 1.3 kata per menit. Sebelum liburan natal, yaitu ketika 80.000 kata telah dihasilkan, kemampuan mereka, yaitu kecepatan mengetik, meningkat dengan pesat sekali sehingga mencapai 3.15 menit/100 kata atau 31.8 kata per menit.

 

51

52

Namun, ketika melanjutkan pelatihan tersebut setelah liburan Natal, kecepatan mengetik mereka tidak sebaik sebelum liburan. Pada diagram, pengaruh ini kelihatan jelas. Setelah berhenti selama beberapa hari berturut-turut, mereka KEHILANGAN PEDOMAN untuk mengeti sebaik sebelumnya. Setelah beberapa saat kemdian proses kehilanga pedoman ini terlewati dan proses pertambahan kecepatan mengetik akan berlanjut. Bila setelah liburan Natal tingkat kecepatan yang mereka capai adalah 4.6 menit/100 kata atau 21.8 kata/menit untuk 90000 kata maka setelah proses kehilangan pedoman terlewati kecepan mereka menjadi 2.5 menit/100 kata atau 40 kata/menit unttuk 170 kata. Tahap kehilangan pedoman ini akan berulang kembali setelah liburan Paskah. Namun tidak sejelek sebelumnya, dan lagi, proses peningkatan kecepatan mengetik mereka berlanjut setelah itu. Bila sebelum liburan Paskah kecepatan mereka untuk mengetik adalah 2.1 menit per 100 kata atau 47.7 kata per menit untuk 380000 kata, maka setelah liburan kecepatannya menjadi 2.8 menit per 100 kata atau 35.8 kata per menit untuk 450000 kata. Setelah tahap kehilangan pedoman ini mereka lalui, kecepatannya menjadi 2.0 menit per 100 kata atau 50 kata/menit untuk 500000 kata.

Hal yang dapat kita pelajari dari penelitian yang telah dilakukan oleh Cochran pada bulan Januari 1969 ini adalah bahwa proses belajar dari pengalaman bagi seseorang yang mengerjakan pekerjaan berulang akan terputus bila ia berhenti selama waktu tertentu, ia seakan-akan harus belajar untuk mulai mengerjakan pekerjaan berulang akan terputus bila ia berhenti selama waktu tertentu, ia seakan-akan harus belajar untuk mulai mengerjakan suatu pekerjaan yang kurang dikenalnya. KEHILANGAN PEDOMAN, yaitu istilah untuk menandai peristiwa tersebut, akan menyebabkan produktifitas menurun, namun, itu tidak berlangsung lama karena kecepatan akan kembali seperti sebelumnya, dan proses belajar dari pengalaman tersebut akan berlanjut. Semakin sering seseorang mengerjakan suatu pekerjaan yang sama, semakin kecil pengaruh tahap kehilangan pedoman baginya.

 

Perbandingan Karyawan dengan Mesin Berpengaruh pada Learning Curve

Dengan menggunakan data hasil studi Miguel A. Requero[15], W.B. Hirschman[16] menemukan bahwa proporsi tenaga kerja manusia di dalam proses perakitan pesawat terbang mempengaruhi Learning Curve-nya. Semakin besar bagian tenaga kerja manusia, semakin curam Learning Curve-nya. Di dalam pembuatan kerangka pesawat udara, tiga perempat bagian tenaga kerja langsung terlibat dalam kegiatan perakitan, dan sisanya bekerja pada pekerjaan mesin. Dengan perbandingan tersebut ditemukan Learning Rate 80%.

Tetapi ketika proporsi kegiatan perakitan lebih rendah, Learning Curve kurang begitu curam. Bila perbandingan antara perakitan dengan pekerjaan mesin tersebut menjadi 50:50, makaLearning Rate menjadi 85%. Dan bila seperempat bagian tenaga kerja manusia terlibat dalam proses perakitan, sedang sisanya pada pekerjaan mesin, maka Learning Rate akan berkisar pada 90%.

LR

Hasil ini semakin menguatkan pendapa-pendapat bahwa apabila konsep belajar dikaitkan dengan orang, maka semakin kecil proporsi manusia, maka semakin berkurang kapasitas untuk belajar[17], yang menemukan bahwa kecenderungan belajar tergantung antara proporsi perkaitan dengan permesinan. Dan proporsi tersebut dapat dijadikan pedoman untuk pendugaan-pendugaan selanjutnya. Penelitian yang telah dilakukan Hirschman ini menunjukkan kepada kita bagaimana gejala Learning Curve terjadi dengan pola yang sama pada pembuatan pesawat B-17, B-24, dan B-29 pada berbagai perusahaan, seperti dapat kita lihat pada peraga ,yang mana Learning Curve ditayangkan dalam skala logaritmik.

Bila kita perhatikan Learning Curve pembuatan pesawat B-17 pada LOCKHEED AIRCRAFT CO di Burbank lebih teliti, maka kita melihat bahwa pada akhir kontrak juga terjadi pada pembuatan pesawat B-17 pada BOEING CO di seattle, yang mana kurva justru menaik. Kedua gejala pada pabrik yang berbeda tersebut dapa terjadi bila pekerja dipindahkan ke bagian lain dan menyebabkan kegiatan menjadi tidak efisien.

Di samping itu,  kita juga melihat pula bahwa gejala kurva menaik dapat terjadi di tengah kontrak. Lihat Learning Curve B-17 BOEING CO, Seattle. Gejala tersebut terjadi karena pemberhentian kegiatan sementara, sebagai misal karena disebabkan oleh pengenalan perubahan model, atau memindahkan kegiatan pada tempat yang baru. Segera setelah kegiatan tersebut dimulai lagi, kurva akan meurun dengan cepat dan mendekati slope kurva yang lama. Gejala semacam ini, yaitu adaptasi setelah terhenti, telah diteliti pada latihan mengetik. Lihat kasus liburan Paskah dan liburan Natal yang mengakibatkan gejala kehilangan pedoman pada operator.

Learning Curve Industri

Peneltian ini dilakukan oleh Dr. S.A. Billon[18], College of Busniness, Michigan State University.

Jam kerja langsung yang terjadi pada hasil yang berbeda dan mewakili lima macam program produksi dan lima puluh empat macam produk yang berbeda diperoleh dari tiga pabrik. Periode produksi dari lima macam program tersebut berkisar antara dua hingga sepuluh tahun, dan hasil total antara tujuh unit hingga seribu unit. Tiga program berasal dari pembuatan berbagai komponen electronic data processing system dan dua yang lain adalah mesin-mesin percetakan.

Kemudian, Learning Curve dihitung untuk setiap produk dari seluruh lima puluh empat produk tersebut. Untuk setiap kasus kurva memlikii slope negatif, dan untuk mengevaluasi reliabilitas kurva tersebut, index korelasi dihitung untuk setiap kasus demikian juga dengan “standard error”-nya. Hasil dari penelitian ini dapat dilihat pada peraga berikut.

Peraga7

Learning Rate, Korelasi dan Standard Error pada industri

Program 1 terdiri dari enam komponen electronic Data Processing yan mempunyai Learning Rate antara 77.7% hingga 97.6%. program 2 terdiri dari delapam komponen EDP dan mempunyai Learning Rate 75.4% hingga 96.5%. Program 3 terdiri dari komponen EDP dengan Learning Rate antara 85% hingga 90.6%.

Program 4 dan 5 terdiri dari mesin-mesin percetakan yang berbeda di dalam ukuran. Program 4 terdiri dari 16 model yang mempunyai Learning Rate antara 82.9% dan 96.2%, sedang Learning Rate program 5 yang terdiri dari 12 model adalah antara 84.9% hingga 95.4%.

Dari penelitian ini, Billon menyimpuklkan bahwa dalam “confidence limits” tertentu, Learning Curve linier bisa digunakan untukmemprediksi kebutuhan waktu produksi. Namun, ditemukan pula bahwa,

  1. Learning Rate cenderung berbeda antara perusahaan yang satu dengan yang lain untuk pembuatan produk yang sama.
  2. Learning Rate cenderung berbeda untuk pembuatan produk yang berbeda meskipum oleh satu perusahaan yang sama.
  3. Learning Rate cenderung berbeda untuk pembuatan produk yang sama dengan model yang berbeda yang dibuat-buat oleh satu perusahaan yang sama.

Belajar dari pengalaman-pengalamansbelumnya, yaitu sejak pengamatan yang pertama kali dilakukan oleh Komandan Wright-Petterson Air Force Base Ohio dan kemudian dilanjutkan penelitian-penelitian oleh para ahli dan praktisi pada berbagai bidang kegiatan dan industri di berbagai negara, maka kita dapat menarik suatu pelajaran mengenai Learning Curve dari pengalaman dan penelitian tersebut.

  1. Learning Curve adalah sebuah istilah untuk menandai suatu gejala yang universal tentang perilaku manusia di dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Semakin sering seseorang mengerjakan kegiatan itu sehingga semakin cepat waktu yang diperlukan untuk menyelesdaikannya.
  2. Karena gejala ini terjadi pada manusia di dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya maka proporsi SDM di dalam suatu proses produksi akan sangat mempengaruhi Learning Rate-nya. Semakin besar proporsi SDM, semakin rendah Learning Rate-nya, dan semakin kecil proporsi SDM maka semakin tinggi Learning Rate-nya.
  3. Karena adaptasi seseorang dengan tugasnya belu tentu samad engan yang lain maka kegiatan atau pekerjaan yang sama belum tentu memiliki Learning Rate yang sama, demikian juga untuk pembuatan produk yang sama oleh perusahaan yang berbeda.
  4. Kegiatan yang berhenti untuk sementara waktu selama proses tertentu sedang berlangsung akan menyebabkan seseorang atau sekelompok pekerja mengalami masa kehilangan pedoman ketika atau mereka mulai bekerja kembali.
  5. Sampai pada tingkat tertentu, tingkat belajar atau adaptasi seseorang terhadap tugasnya akan bertambah dengan sangat pelan dan tidak secepat sebelumnya. Istilah untuk menandai gejala ini adalah “Learning Plateau“.

——————————

  1. Miquel A. Requero, “An Economic Study Of The Military Airframe Industry”, Wright Patterson Air Force Base, Ohio Department of The Air Force, October 1957, pp 213 []
  2. 1. Diketengahkan oleh S.A. Billoan, “Industrial Learning Curve and Forecasting”, Management International Review, Vol.6, No. 6, (1996), pp. 68, yang bersumber pada J.R. GRAWFORD, Learning Curve, Ship Curve, Rations Related Data”, Burbank California Lockheed Aircraft Corporation n.d. []
  3. 1. J.R. Crawford & E. Strauss, “World War II Acceleration of Airframe Production”, Hq AMC, Dayton, Ohio, 1947; Lihat pula S.A. Billon, log cit []
  4. 1.Pankaj Ghemawat, “Building Strategy on the Experience Curve”, Harvard Business Review, March – April 1985, pp. 144 []
  5. A.D. Searle, “Productivity Changes in Selected Wartime Ship Building Programs”, Monthly Labor Review, Vol. 61, No. 6, 1945, pp. 1132-1147Lihat pula, F.J. Montgomery, “Increased Productivity in the Construction of Liberty Vessels”, Monthly Labor Review, Vol. 57, No. 5, 1943, pp 861-864 []
  6. 1. Artikel asli diterbitkan di Paris oleh Dunon. Diketengahkan oleh S.A. Bilon, log-cit, yang bersumber pada terjemahan yang terdapat di Document Office, AMC, Dayton, Ohio []
  7. 1. Eric Mensforth, “Airframe Production”, Aircraft Production, Vol. 9, October, 1947, pp. 338-395 []
  8. Kenneth J. Arrow, log-cit, yang bersmuber pada Lunberg, E. “Productivitet och rëntabilitet”, Stockholm: PA. Norstedt and Söner, 1961 []
  9. Lihat pula sebagai misal, Reno R. Cole, “Increasing of Vocational Proficiency in Three Machine Operations”, Journal of Applied Psychology, 22,1938, pp. 518-526 []
  10. Winfred B. Hirschman, op-cit, hal 126 []
  11. 1. Kenner J. Arrow, op-cit, hal. 155 []
  12. Blankenship A.B. Taylor H.R., “Prediction of Vocational Proficiency in Three Machine Operations”, Journal of Applied Psychology, 22, 1938, pp. 518-526 []
  13. E.N. Corlett & V.J. Morcombe, “Straightening Out Learning Curve, Journal of Personel Management, June 1970, pp. 14-16 []
  14. Ibid hal. 17-19 []
  15. Nichael A. Requero, log cit []
  16. W.B. Hirschman, log cit []
  17. Lihat pula, Raymon B. Jordan dalam “Learning How to Use The Learning Curve”, N.AA. Bulletin, January, 1958, p. 27 []
  18. dilaporkan dalam Journal Management International Review, Vol. 6, No. 6, 1996, pp. 72-74. []